Rabu, 13 November 2013

Kekerasan, No ! Guru Wibawa, yes !

Kekerasan, No !GuruWibawa, Yes  !
Oleh :
ISNEN WIDIYANTI, S.Pd
Guru MTs  N Model Babakan

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, maka ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, maka ia beajar berlaku adil.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia menemukan cinta dalamkehidupan.

Begitulah anak selalu belajar dalam kehidupannya
(Ajaran  Dorothy Law Nolte )

Kondisi sistem pendidikan negeri ini yang carut-marut menjadikan semakin banyak tindakan kriminal, kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Kekerasan bukanlah hal yang aneh dan luar biasa di negeri ini, karena terjadi hampir disetiap tempat baik di rumah, masyarakat maupun sekolah. Di media elektronik dan cetak, hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang kekerasan mulai dari pembunuhan, penganiayaan, pemukulan, pelecahan dan sebagainya.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, aksi kekerasan juga sering terjadi. Pada September 2011 diberitakan tujuh—ada yang mengatakan 15—murid kelas VIII dan IX salah satu SMP di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, dijemur sebelum dipukul dan ditendang guru mereka.Alasannya, ketujuh murid itu bermain bola selama jam istirahat. Masih di bulan yang sama, sembilan murid sebuah SD di Binjai, Sumatera Utara, dilaporkan menderita kesakitan setelah tangan dan kaki mereka dipukul dengan penggaris kayu dan hidung mereka dijepit tangan oleh guru mereka. Alasannya, kesembilan murid itu tak sanggup menghafalkan nama 33 provinsi.
Cerita-cerita di atas hanyalah segelintir kasus dari sekian banyaknya kasus kekerasan yang sering dan hingga kini masih terjadi di sekolah. Hubungan guru-murid yang diwarnai dengan kekerasan semacam itu merupakan salah satu bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah. Bentuk-bentuk kekerasan lainnya, bullying (pelecehan antarmurid) dan tawuran pelajar.
Meski demikian, perhatian sengaja penulis tujukan pada isu kekerasan guru terhadap murid karena, Pertama, kedua pihak inilah yang sangat menentukan proses belajar-mengajar di kelas. Kedua, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pelaku terbanyak kekerasan terhadap anak setelah orang terdekat korban adalah guru. Berdasarkan laporan KPAI tahun 2007, misalnya, disebutkan bahwa dari 555 kasus kekerasan yang menimpa anak, 18% pelakunya adalah orang terdekat dan 11,8% adalah guru (VIVAnews, 24 Oktober 2008).Ketiga, Hasil penelitian UNICEF di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara tahun2006 juga menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak sebagian besar (80 persen) dilakukan olehguru. Selain itu, hasil penelitian tersebut memberikan kesadaran kepada kita bahwa kekerasan pada anak tidak hanya berupa kekerasan fisik, namun bisa berupa kekerasan non fisik, seperti pemberian tugas berlebihan, memberi target prestasi terlalu tinggi, hingga memaksa anak melakukan sesuatu diluar minatnya (JP, 21 November 2007).Keempat, Hasil penelitian Philip juga demikian, bahwa di Indonesia cukup banyak guru yang menilai cara kekerasan masih efektif untuk mengendalikan siswa. Akibatnyaadalah terjadi traumatis psikologis, dendam yang mendalam, makin kebal hukuman, dancenderung akan melampiaskan kemarahan dan agresif terhadap siswa lain yang dianggap lemah(Philip, 2007). Hal ini mengindikasikan bahwa di lingkungan sekolah, guru menjadi unsur pentingdalam tindak kekerasan yang bisa berdampak serius bagi anak didik.
Mengapa guru melakukan aksi kekerasan terhadap murid? Sebagaimana kita ketahui tentang mitos wibawa dimata sebagian guru yang beranggapan bahwa kekerasan bisa menjadi sarana untuk menunjukkan kewibawaan di hadapan murid-murid. Maksudnya, guru pada situasi-situasi tertentu memerlukan kekerasan agar murid mendengarkan dan menghormatinya. Ketika siswa atau siswi menunduk dengan raut muka penuh ketakutan, wibawa telah ditegakkan. Begitu anggapan yang dipercayai selama ini.
Wibawa itu tidak perlu dicari, tapi melekat dalam diri pendidik dengan sendirinya. Mari kita tengok cerita seorang guru yang menginspirasi sehingga disayangi dan dihormati murid. Masih ingat Prof. Emil Salim? Beliau dipercaya menjabat sebagai menteri lingkungan hidup selama tiga periode berturut-turut (1978—1993). Komitmen terhadap pelestarian lingkungan di Indonesia, seperti beliau akui, terinspirasi dari guru-gurunya terdahulu.
Suatu ketika salah satu gurunya, berkebangsaan Belanda yang sangat peduli terhadap alam, mengajak murid-muridnya, termasuk Emil kecil, pergi ke hutan. Sesaat hendak menyeberangi sungai, mereka dikejutkan sekawanan lintah yang akhirnya mengacaukan perjalanan mereka.
Dengan ketelatenannya, guru tersebut mengajak murid-muridnya berhenti sejenak untuk memahami apa makna dari pertanda alam itu. Diletakkannya seekor lintah di atas daun, kemudian ia meminta murid-muridnya memperhatikan perilaku pacet. Alhasil, kepala pacet itu selalu bergerak-gerak menghadap ke arah datangnya sinar matahari. Lantas, ia menjelaskan sembari berpesan agar murid-murid tidak perlu khawatir setiap kali tersesat di hutan karena pacet bisa dijadikan sebagai kompas alami.
Kecintaannya terhadap alam dan ketelatenannya mendidik murid-murid membuat Emil kecil menaruh rasa hormat pada gurunya. Bahkan, Emil kecil dan teman-temannya semakin menyayangi guru tersebut yang telah berhasil membukakan alam pikiran dan mata hati mereka dalam memaknai peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Dedikasi guru itulah yang juga mengantarkan Emil kecil menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam bidang lingkungan hidup di Indonesia.
Oleh karena itu, tidaklah benar mitos yang beranggapan jika kekerasan dibenarkan untuk menegakkan wibawa guru di hadapan anak didik. Karena jika selama guru mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk menginspirasi murid-muridnya, kewibawaan akan mengikutinya. Guru yang menjadi inspirasi bagi aksi kekerasan adalah preman yang tempatnya bukan di sekolah.
Kekerasan oleh guru pada siswa menurut saya disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :Pertama,kurangnya pengetahuan guru bahwa kekerasan itu tidak efektif untuk memotivasi siswaatau merubah tingkah laku. Selama ini kekerasan dilakukan guru dengan dalih untuk mendisiplinkan siswa, justru kekerasan akan mengakibatkan hal-hal yang akan berdampak bagimasa depan anak baik dari perkembangan, pertumbuhan dan kepribadiannya. Akibat kekerasanakan membuat perilaku anak menjadi tidak konsisten yakni “patuh di depan dan berani di belakang guru”.Kedua,adanya persepsi yang parsial menilai siswa. Misalnya, ketika siswamelanggar, bukan sebatas menangani, tetapi seharusnya mencari tahu apa yang melandasitindakan itu.Ketiga,adanya hambatan psikologis, sehingga dalam menangani masalah guru lebihsensitif dan reaktif.Keempat,adanya tekanan kerja; adanya target (standarisasi) yang harusdipenuhi guru seperti kurikulum, materi, prestasi yang harus dicapai siswa.Kelima, pola yangdianut adalah mengedepankan kepatuhan dan ketaatan pada siswa, mengajar satu arah (dari guruke murid).Keenam,muatan kurikulum yang menekankan pada kemampuan kognitif dancenderung mengabaikan kemampuan afektif, sehingga guru dalam mengajar cenderungsuasananya kering, stressful dan tidak menarik, padahal mereka dituntut untuk mencetak siswa-siswa yang berprestasi. Ketujuh,adanya tekanan ekonomi pada guru yang akhirnya menjelmamenjadi bentuk kepribadian yang tidak stabil, seperti berfikir pendek, emosional, mudah goyah,ketika merealisasikan rencana-rencana yang sulit diwujudkan.

Karena itu solusi yang bisa ditawarkan untuk menghentikan kekerasan ini adalah :Pertama,guru dansemua warga sekolah membuat kesepakatan untuk menerapkan pendidikantanpa kekerasan di sekolah.Kedua,mendorong dan mengembangkan humanisasipendidikandengan menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran, membutuhkan keterlibatan mental dantindakan sekaligus, serta mengembangkan suasana belajar yang meriah, gembira, denganmemadukan potensi fisik dan psikis menjadi suatu kekuatan yang integral.Ketiga,lebihmengedepankan penghargaan dari pada hukuman.Keempat,terus menerus membekali guruuntuk menambah wawasan pengetahuan, kesempatan, pengalaman baru untuk mengembangkan kreativitas mereka.Kelima,adanyakonseling , tidak hanya siswa yang membutuhkan bimbingan,tetapi juga guru. Sebab guru juga mengalami masa sulit yang membutuhkan dukungan, penguatan dan bimbingan untuk menemukan jalan keluar yang terbaik. Keenam, Segeramemberikan pertolongan bagi siapa pun juga yang mengalami tindakan kekerasan di sekolah, danmenindaklanjuti serta mencari solusi alternatif yang terbaik. Sehingga kekerasan tidak menjadihal yang “biasa dan lumrah” tetapi menjadi suatu tindakan yang harus mendapat perhatian serius.

Minggu, 27 Oktober 2013

RAHASIA PEMIMPIN IDAMAN

RAHASIA PEMIMPIN IDAMAN
Oleh :
ISNEN WIDIYANTI, S.Pd
Guru MTs N Model Babakan

Mitos kepemimpinan di Indonesia mengatakan bahwa “pemimpin bangsa Indonesia sebaiknya orang Jawa” sebenarnya memiliki makna yang kadangkala ada benarnya. Mengapa saya mengatakan demikian? Memang, salah satu kehebatan Indonesia adalah begitu beragamnya suku dan kaya akan nilai-nilai kehidupan yang luar biasa. Tetapi yang menurut saya menonjol adalah budaya Jawa karena nilai-nilai budayanya menekankan kehalusan budi dan cerita serta etikanya termasuk di dalamnya etika kepemimpinan. Walaupun nilai-nilai kepemimpinan ada di setiap suku dan perlu digali karena tidak kalah maknanya, tetapi nilai budaya Jawa diajarkan di semua lini strata sosial mulai dari elit sampai ke rakyat jelata, sehingga dia menjadi suatu yang nampak dalam praktika.
Kepemimpinan selalu merupakan proses dua arah, yaitu interaksi antara pemimpin dan yang dipimpin. Dalam budaya Jawa, pemimpin itu adalah karena suratan nasib, dan didukung oleh
orang-orang yang ingin dipimpin oleh dirinya. Seorang pemimpin dari dalam lubuk
hatinya tidak pernah ingin dan merasa layak untuk menjadi pemimpin. Bahkan untuk
menghindari bahwa ia diharuskan memimpin, ia akan menceritakan segala
kekurangannya, keterbatasannya, dengan harapan tidak dituntut untuk memimpin.
Bilamana masyarakat tetap berkehendak agar dia yang memimpin, maka ia akan
meminta bantuan dari rakyat agar dirinya dapat memimpin dengan benar. Pemimpin adalah orang yang bekerja untuk melayani orang-orang atau bawahan yang ia pimpin,
dengan cara memberi saluran dan kesempatan bagi bawahannya untuk memperjuangkan kepentingan mereka dalam suasana kompetisi yang sehat.(Dr. Ing.H. Fauzi Bowo, Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta).
Dalam wacana falsafah pewayangan Jawa dikenal suatu konsepsi Ilmu Luhur yang menjadi prinsip dasar kepemimpinan a la Jawa. Yakni ilmu “Hastha Brata” atau dikenal pula sebagai Wahyu Makutha Rama yang diterima Raden Arjuna setelah menjalani “laku” prihatin dengan cara tapa brata dan tarak brata (Lihat : serat Laksita Jati).  Hastha berarti delapan, brata adalah “laku” atau jalan spiritual/rohani. Hastha Brata maknanya adalah delapan “laku” yang harus ditempuh seseorang bila sedang menjalankan tampuk kepemimpinan. Kedelapan “laku” sebagai personifikasi delapan unsur alamiah yang dijadikan panutan watak (watak wantun) seorang pemimpin. Kedelapan unsur tersebut meliputi delapan karakter unsur-unsur alam yakni : bumi, langit, angin, samudra-air, rembulan, matahari, api, dan bintang.
               Bagi masyarakat Jawa, rupanya, sudah tak asing lagi dengan istilah ‘Ilmu Hastha Brata’ yang disosialisasikan dalam pewayangan. ‘Ilmu Hastha Brata’ bukanlah ilmu sembarangan, melainkan ‘ilmu pethingan’. Sebab digambarkan dalam pewayangan, ilmu tersebut telah mengantarkan kesuksesan dua orang Raja besartitisan Bathara Wisnu—yakni Sri Rama Wijaya Raja Ayodya dan Sri Bathara Kresna Raja Dwarawati—dalam memimpin negara.
Lantas, bagaimana rahasia ilmu kenegaraan itu? Dan, bagaimana pula kandungan‘Ilmu Hastha Brata’ hingga membawa kesuksesan bagi Prabu Rama dan Prabu Kresna?
Sebagaimana diketahui, ‘Ilmu Hastha Brata’ adalah meneladani perwatakan 8 (delapan) anasir alam semesta dalam kehidupannya sehari-hari, sebagai berikut:
Pertama, hambeging kisma (wataknya bumi) yang maknanya kaya, suka berderma, kaya hati (lembah manah, legawa). Dalam perspektif tasawuf, misalnya, orang sufi itu diharapkan bisa seperti tanah: tidak nggrundel (keluh kesah) meski dia menjadi jalan yang diinjak-injak orang atau ditempatkan di kandang sapi sekalipun. Namun, tanah ada juga yang dijadikan dinding di rumah-rumah megah atau dijadikan genteng yang berada di atas rumah yang fungsinya melindungi tuan rumah dari panasnya matahari dan turunnya air hujan. Dalam perspektif filosofis kejadian manusia yang berasal dari tanah, jika diteliti secara seksama, sebenarnya tanah lebih kuat dibanding api—yang merupakan asal mula iblis. Meski iblis merasa dirinya lebih baik daripada tanah sehingga menjadi takabur, sebenarnya argumentasi tadi tidak benar. Jika ada api cobalah ditabur dengan tanah secukupnya, niscaya api tadi akan menjadi padam.
Kedua, hambeging tirta (wataknya air) yang maknanya selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah dan selalu bersikap andhap asor anoraga atau rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Sifat orang yang demikian bisa dikatakan “mengalir” saja dalam hidupnya; tak menargetkan sesuatu, tenang dan bening sebagaimana kharakter air, tidak tergesa-gesa, bahkan perilakunya juga lemah-lembut, jauh dari stres atau depresi, dan seterusnya.
Ketiga, hambeging samirana (wataknya angin) yaitu selalu meneliti dan menelusup ke mana-mana, sehingga benar-benar mengetahui secara persis persoalan-persoalan yang ada di masyarakat: bukan hanya sekedar kata orang belaka. Kejeliannya dalam meneliti segala persoalan tadi akhirnya dia berhasil mengetahui data-data di lapangan dengan valid dan akurat. Dampak positifnya adalah menjadi orang yang terpercaya dan dapat dipegang kata-katanya.
Keempat, hambeging samodra (wataknya lautan) yang maknanya luas hatinya dan siap menerima keluhan atau menampung beban orang banyak tanpa perasaan keluh-kesah. Dalam pergaulan sama sekali tidak membeda-bedakan antara golongan atau kelompok yang satu dengan yang lainnya.  Semuanya dianggap sama, sebab semuanya merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Dalam konteks keilmuan pun, orang seperti ini biasanya bersikap sangat bijaksana, arif, dan bahkan menerapkan teorinya Bima Sena (dalam pewayangan) atau Sayyidina Abu Bakar r.a: pinter api balilu (orang yang sebenarnya pandai tetapi berlagak seperti orang bodoh). Biasanya orang seperti itu disebut “nyegara”: karena mampu menutupi ilmunya yang luas, sehingga tatkala berhadapan dengan siapa pun saja dengan penyesuaian diri secara sempurna.
Kelima, hambeging candra (wataknya bulan) yakni selalu memberi penerang(pepadhang) kepada siapapun saja dan menggambarkan nuansa keindahan religius-spiritual yang mengarah untuk senantiasa ber-musyahadah (mengingat Allah) kepada kebesaran dan keindahan Tuhan. Terlebih lagi, keindahan rembulan akan lebih nampak bersinar pada malam bulan purnama (Bahasa Jawa: padhang mbulan),sehingga mampu menggungah untuk makin mengingat kebesaran, keindahan, dan keagungan Tuhan. Selain itu, pancaran cahaya rembulan juga mampu menggugah nuansa estetika atau citra seni yang amat tinggi. Mengapa orang-orang kuno dahulu banyak yang berada di luar rumah pada malam bulan purnama? Ternyata, perilaku mereka tadi sangat baik untuk mengobati segala macam penyakit; yakni dengan cara berjemur pada malam bulan purnama.
Keenam, hambeging surya (wataknya matahari) yang maknanya memberikan daya, energi, kekuatan atau power kepada orang lain. Selain itu, ‘perjalanan’ matahari sejak terbit di sebelah timur hingga terbenam di sebelah barat menunjukkan suatu perjalanan yang istiqomah (alon maton, alon-alon asal klakon). Sebagaimana disebutkan dalam bahasan awal, dalam konteks keilmuan yang diambil dari ayat-ayat alam, matahari melambangkan rahmat Tuhan, rembulan melambangkan pemimpin, dan bumi adalah rakyat. Ketika terjadi gerhana matahari—bumi gelap karena sinar matahari tertutup bulan—ilustrasi maknanya adalah pemimpin (bulan) sedang mengalami kegelapan; akibatnya rakyat (bumi) pun juga menjadi gelap. Dan, peristiwa gerhana matahari itu pernah terjadi pada zaman pemerintahan Orde Baru dulu, sedangkan gerhana bulan dua kali terjadi di zaman ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkuasa. 
Ketujuh, hambeging dahana (wataknya api) yang selalu mampu menyelesaikan masalah dengan adil serta tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya (tan pilih kasih). Wataknya api dalam konteks ‘Ilmu Hastha Brata’ ini bersifat positif, karena aplikasinya serius dan mampu menyelesaikan masalah secara tuntas (istilah Jawanya: bisa mrantasi gawe). Sebaliknya, api—yang bersifat negatif—merupakan simbol dari nafsu: yakni nafsu menguasai, menindas, memerintah, mendikte, mendholimi, meminggirkan, bahkan memenjarakan dan menyengsarakan orang lain. Ketika kita makan makanan yang lezat dan nikmat, sebenarnya perut memiliki keterbatasan dengan menampung makanan yang banyak tadi, tetapi si lidah tetap merasa nikmat untuk terus melahap apa saja!
Kedelapan, hambeging kartika (wataknya bintang); yakni menggambarkan kepribadian, maqam atau posisi, bahkan cita-cita yang tinggi, kokoh dan bersifat tetap seperti bintang yang berada di langit. Ungkapan menjadi ‘bintang kelas’, misalnya, hal itu diambil dari filosofi hambeging kartika ini. Begitu pula dengan pangkat yang tinggi dalam kemiliteran pun juga dilambangkan dengan tanda ‘bintang’.
Demikianlah makna dan rahasia kandungan ‘Ilmu Hastha Brata’ yang dimiliki Prabu Rama Wijaya dan Prabu Sri Bathara Kresna; yang juga di-wejangkan kepada Raden Arjuna.
Jika ditelaah lebih mendalam, kajian tentang ‘Ilmu Hastha Brata’ di atas sebenarnya menyangkut dua hal. Pertama, keteladanan seorang pemimpin—Prabu Rama Wijaya dan Prabu Sri Bathara Kresna—yang mampu memimpin negara dengan adil dan bijaksana sehingga namanya harum di mata rakyat. Kedua, dengan meneladani perwatakan delapan alam di atas menyebabkan sang pelaku (pemimpin) secara otomatis masuk ke pendalaman wilayah spiritual-religius. Sebab, alam semesta itu sebenarnya merupakan ayat-ayat Tuhan yang tersirat, sedangkan Kitab Qur’an merupakan ayat Tuhan yang tersurat. Keduanya tidak bersinggungan atau bertabrakan, melainkan berjalan secara selaras dan harmonis. Maka, tidak mustahil bagi yang menjalankan ajaran ‘Ilmu Hastha Brata’ di atas lama-kelamaan akan menjadi insan kamil.
Bila seorang pemimpin bersedia mengadopsi  8 karakter unsur alamiah tersebut, maka ia akan menjadi pemimpin atau raja yang adil, jujur, berwibawa, arif dan bijaksana. Hal ini berlaku pula untuk masyarakat luas, bilamana seseorang dapat mengadopsi ilmu Hastha Brata ia akan menjadi seseorang yang hambeg utama, berwatak mulia, luhur budi pekertinya. Bandingkan, misalnya, dengan penguasa atau pemimpin yang hidup di zaman modern dewasa ini: sudahkah mereka bersungguh-sungguh menyejahterakan kehidupan rakyat kecil? Atau, bahkan, apakah kesungguhan para pemimpin dalam memperjuangkan rakyat kecil tadi hanya sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan yang telah mereka dapatkan saja?

Jumat, 18 Oktober 2013

Geguritan

GEGURITAN

Tegese geguritan
·         Geguritan saka tembung lingga ‘gurita’ yaiku owah-owahan saka tembung ‘gerita’. Dene tembung ‘gerita’ iku saka tembung lingga ‘gita’ kang nduweni teges tembang utawa syair.
·         Ana uga kang nduweni panemu yen geguritan iku saka tembung lingga ‘gurit’ kang nduweni teges tembang, kidung, syair. 
·         Miturut kamus, geguritan yaiku tembang uran-uran utawa karangan kang pinathok kayadene tembang, nanging guru gatra, guru lagu, lan guru wilangane ora ajeg.
·         Miturut Raminah Baribin (2005) geguritan iku iketaning basa kaya dene syair. Mula saperangan pawongan ana kang ngarani utawa nyebut syair Jawa gagrag anyar.
Saka maneka teges geguritan ing dhuwur bisa kajupuk dudutane (kesimpulane), geguritan yaiku wohing kasusastran Jawa anyar awujud syair kang tanpa nganggo paugeran/pathokan tartamtu.
Titikane geguritan
Titikane geguritan yaiku:
·         Ora kawengku ing pathokan
·         Dudu basa padinan
·         Migunakake tembung-tembung kang pinilih
·         Cacahe larikan ora katemtokake
·         Isine mentes
·         Arang-arang nggunakake tembung-tembung pangiket
Jinise geguritan
1.      Geguritan Kuna
Geguritan kuna nduweni pathokan/paugeran:
a.    Cacahe gatra (larikan) ora ajeg, nanging sithik-sithike papat.
b.    Cacahing wanda (suku kata) ing saben gatra utawa larik kudu padha akehe
c.    Tibaing swara (guru lagu) kudu runtut
d.    Sangarepe guritan diwiwiti tembung “Sun nggurit”, utawa “Sun Ngegurit”
Contoh geguritan Kuna:
Sun nggegurit:
Kahanan jaman saiki
Sipat pemudha-pemudhi
Srawunge saya ndandi
Raket wewekaning sepi
Tan kadi jaman nguni
Srawung sarwa ngati-ati
2.    Geguritan Anyar
Guritan anyar (geguritan) tegese rumpakan kang ora kaiket ing paugeran dene edi penine rumpakan ngendelake tembung kang mentes lan pilihan.
3.  Geguritan mawa dhapukan tartamtu
Miturut pandhapuke ukara lan pangiketing tembung, arane geguritan iku warna-warna, kayata:
1.              Rong gatra sapada, diarani gita dwigatra (distikon)
2.              Telung gatra sapada, diarani gita trigatra (terzina)
3.              Patang gatra sapada, diarani gita caturgatra (kuatrain)
4.              Limang gatra sapada, diarani pancagatra (kuin)
5.              Nem gatra sapada, diarani gita sadgatra (sekstet)
6.              Pitung gatra sapada, diarani saptagatra (saptima)
7.              Wolung gatra sapada, diarani gita hastagatra (oktavo)
8.              Sangang gatra sapada, diarani gita nawagatra
9.              Dhapur soneta
10.          Tanpa tinamtu diarani gita mardika (puisi bebas)
B.                                     Maca Geguritan
Geguritan bisa kanggo medharake utawa ngandharake isine ati lan aweh piwulang, pepeling, sarta pitutur marang wong sing maca. Sawijining geguritan bakal luwih gampang olehe nggoleki amanat utawa piwulang kang ana sajroning geguritan kanthi cara diparafrasekake luwih dhisik. Parafrase geguritan tegese proses owah-owahan saka wujud geguritan didadekake wujud gancaran utawa paragraf,  kanthi ancas supaya maknane/tegese geguritan luwih cetha lan gamblang. Geguritan iku bisa dirasakake kanthi maca utawa ngrungokake, satemah bisa:
1.        Nemokake pesen (amanat/piwulang) kang kamot ing sajroning geguritan,
2.         Nemtokake sebab kang ndadekake endahing geguritan,
3.        Gawe gambaran tumrap geguritan kang diwaca utawa dirungokake.
Kang perlu digatekake jroning nyulih wedharaning geguritan / gancaran  yaiku:
1.        Maca tulisan (naskah) kanthi setiti
2.        Ngira-ira tetembungan kang diilangi, nuli mbalekake
3.        Njingglengi ten ana pasemin utawa pralambang sing dienggo
4.        Njarwani (menafsirkan makna) pasemon utawa pralambange
5.        Ngupakara (merangkaikan) ukara-ukara saka panaliten dadi sawijining gancaran

Kanggo ngelingake maneh apa wae sing kudu digatekake nalika maca geguritan, ing ngisor iki perangan-perangan sing kudu disemak lan diugemi,yaiku:
1.        Wirama (irama/lagu)
Irama kudu digatekake nalika maca geguritan, umpamane banter, alon, cetha utawa samar, lan sapanunggalane. Nalika maca geguritan sing surasane semangat kudu nyuwara sora, beda nalika maca geguritan sing surasane ngemu kasusahan, kudu alon, alus, lan melas.
2.        Wirasa (rasaning swasana ati)
Surasane utawa isine geguritan kudu dimangerteni tegese utawa karepe. Nuli anggone maca ngetrepake utawa nyelarasake karo isining geguritan, yaiku susah, seneng,wibawa, getun, nesu lan sapanunggalane.
3.        Wiraga (obahing awak)
Obahing awak yaiku aja kaku, luwes wae, mlaku uga prayoga, ngobahake peranganing awak kanggo mbangun swasana. Pasemon, praenan kudu selaras karo isining geguritan nanging aja banget-banget.
4.        Wicara (pocapan)
Pocapan sing cetha nalika ngucapake aksara swara, wanda, lan tembung.
          Nulis/nggawe geguritan
Jaman saiki panulise geguritan beda karo ing jaman biyen ora nganggo paugeran pinathok. Geguritan ing jaman biyen diarani puisi Jawa Kuna utawa puisi Jawa gagrag lawas, jalaran kaiket dening guru gatra, guru lagu, lan guru wilangan. Ing puisi Jawa Kuna mesthi kawiwitan tembung “Sun anggurit” utawa “Sun Nggegurit”. Ing puisi Jawa anyar utawa geguritan, kabeh aturan mau ora ana. Cacahe gatra, wilangan, lan lagune bebas.
Carane nulis geguritan yaiku:
1.         Nemtokake tema,
2.         Milih tetembungan kang mentes
3.         Endah lan cekak,
4.        Menehi irah-irahan kang jumbuh karo isine geguritan


Selasa, 15 Oktober 2013

10 KESALAHAN MENDIDIK ANAK

Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan ? Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih “Harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya.  Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda :           
1. Kurang Pengawasan
Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.
2. Gagal Mendengarkan
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.
3. Jarang Bertemu Muka
Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.
4. Terlalu Berlebihan
Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.
5. Bertengkar Dihadapan Anak
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.
6. Tidak Konsisten
Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.
7. Mengabaikan Kata Hati
Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.
8. Terlalu Banyak Nonton TV
Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.
9. Segalanya Diukur Dengan Materi
Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.
10. Bersikap Berat Sebelah
Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.