Selasa, 03 Februari 2015

RPP Bahasa Jawa VII Genap Kurtilas Aksara Jawa Kidang Kencana



RENCANA PELAKSANAN PEMBELAJARAN
Ke- 9 dan Ke-10


Satuan Pendidikan      :   MTs N MODEL BABAKAN
Matapelajaran                        :   Bahasa Jawa
                                    Kelas/Semester           :  VII/1
Materi Pokok               :  Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa              
Alokasi Waktu             :  2 X pertemuan (4 x 40 menit)

A.     Kompetensi Inti (KI)
1.      Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
2.      Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam  dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
3.      Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait dengan fenomena dan kejadian nyata.
4.      Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
B.      Kompetensi Dasar dan Indikator
KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR
1.  1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
1.1.1   Berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran
2.1            Memiliki serta menghargai perilaku jujur, disiplin, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi atau tanggapan terhadap berbagai hal/keperluan sesuai dengan tata krama Jawa.

2.1.1    menunjukkan sikap jujur dalam  pembelajaran Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa
2.1.2    berperilaku disiplin dalam pembelajaran Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa
menunjukkan rasa tanggungjawab dalam pembelajaran Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa
4.5   Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa
4.5.1    Membaca teks berhuruf Jawa dengan penerapan sandhangan dan pasangan
4.5.2   Menyalin teks berhuruf Jawa dengan penerapan sandhangan dan pasangan ke huruf latin

C.      Tujuan Pembelajaran
 Pertemuan 1
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
1        Berdoa sebelum dan sesudah pelaksanaan pembelajaran materi Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa
2        Selalu bersyukur setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran
3        Bersikap jujur ketika membaca Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa
4        Bersikap disiplin ketika berdiskusi tentang cara mengalihaksarakan Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa ke huruf Latin dengan baik
5        Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa dengan tepat
Pertemuan 2
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
1.               Berdoa sebelum dan sesudah pelaksanaan pembelajaran materi Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa
2.               Selalu bersyukur setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran
3.               Bersikap jujur dalam menulis  Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf huruf Jawa ke huruf Latin
4.               Bersikap disiplin dalam berdiskusi tentang cara menulis Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa dengan baik
D.     Materi  Pembelajaran
1.      Membaca Aksara Jawa (Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Jawa ke huruf Latin)
2.      Menulis Aksara Jawa (Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Latin ke huruf Jawa)
E.      Metode Pembelajaran
1.      Metode saintifik
2.      Model pembelajaran berbasis masalah(PBL)
F.       Media, dan Sumber Pembelajaran
1.      Media                          :  LCD proyektor, speaker
2.      Sumber Belajar           : Marsudi Basa lan Sastra Jawa
G.     Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1
RINCIAN KEGIATAN
WAKTU
Pendahuluan 
·      Berdoa sebelum melaksanakan kegiatan belajar
·      Memeriksa kehadiran dan kesiapan peserta didik
·      Apersepsi huruf jawa, sandhangan, dan pasangan
·      Menyampaikan tujuan pembelajarankepada siswa
(10 menit )
Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti, peserta didik melakukan langkah-langkah  sebagai berikut.
Mengamati
·      Menyimak berhuruf Jawa di buku atau di power point
Menanya
·       Bertanya jawab tentang penerapan sandhangan dan pasangan
Mengumpulkan informasi
·      Berdiskusi tentang cara membaca Mengalihaksarakan paragraf Kidang Kencana berhuruf Jawa ke huruf Latin
Mengasosiasi
·      Mencoba membaca kalimat dan teks berhuruf Jawa.
Mengomunikasikan
·       Membaca kalimat dan teks berhuruf Jawa untuk mendapatkan tanggapan dari peserta didik dan guru
(65 menit)
Penutup
Kegiatan penutup mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
·      Guru bersama-sama peserta didik menyimpulkan materi PBM.
·      Guru bersama-sama peserta didik melakukan refleksi tentang proses dan hasil pembelajaran yang telah dicapai.
·      Guru memberikan tugas individual untuk berlatih mengalihaksarakan teks berhuruf Jawa

(5 menit)

Pertemuan 2
RINCIAN KEGIATAN
WAKTU
 Pendahuluan 
Dalam kegiatan pendahuluan, guru melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
·      Berdoa sebelum melaksanakan kegiatan belajar
·      Memeriksa kehadiran dan kesiapan peserta didik
·      Apersepsi dengan menampilkan teks berhuruf Jawa dan alih aksarannya
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran
(10 menit )
Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti, peserta didik melakukan langkah-langkah sebagai berikut.
 Mengamati
·      Mengamati contoh alihaksara sebuah teks yang diberikan guru melalui papan tulis atau LCD
Menanya
·      Menanyakan perbedaan tata tulis huruf Jawa dan Latin
Mengumpulkan informasi
·         Mengumpulkan data tentang cara menulis kalimat dan teks berhuruf Jawa melalui diskusi dengan disiplin, jujur, dan saling menghargai.
Mengasosiasi
·         Menganalisis cara mengalihaksarakan bacaan berhuruf Jawa
Mengomunikasikan
·         Menyajikan hasil alih aksara sebuah teks berhuruf latin ke huruf Jawa
(65 menit)
Penutup
Kegiatan penutup mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
·         Guru bersama-sama peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran.
·         Guru bersama-sama peserta didik melakukan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran yang telah dicapai.
·          Guru memberikan tugas individual untuk pertemuan yang akan datang
(5 menit)

H.     Penilaian 
1.      Sikap Spiritual
b.    Teknik Penilaian           : Penilaian diri
c.    Bentuk Instrumen         : Skala


No.
Sikap/nilai
No. Butir
1.
Menerima dengan baik keragaman dan keunikan bahasa Jawa sebagai anugerah Tuhan
1 (a, b, c)
2.
Menghargai keragaman dan keunikan bahasa Jawa sebagai anugerah Tuhan
2 (a, b, c)

      Instrumen Penilaian Sikap Spiritual
      Nama                    : ______________________________
      Kelas                      : ______________________________
      Petunjuk
      Berilah tanda silang (X) sesuai dengan pendapat Anda. (Diisi oleh peserta didik)
Pernyataan
Pilihan
STS
TS
S
SS
1.     Keunikan dan keragaman bahasa Jawa merupakan anugerah Tuhan yang patut ….




a. diterima.




b.dihargai.




2.     Keunikan dan keragaman sastra Jawa merupakan anugerah Tuhan yang patut ….




a. diterima.




b.dihargai.




3.     Keunikan dan keragaman huruf jawa merupakan anugerah Tuhan yang patut ….




a.diterima.




b.dihargai.




      Keterangan
      SS   = Sangat Setuju,          skor = 4
      S    = Setuju,                      skor = 3
      TS  = Tidak Setuju,            skor = 2
      STS = Sangat Tidak Setuju, skor  = 1
            Pedoman Penskoran:
Untuk setiap aspek nilai, pilihan berkisar dari “Sangat Tidak Setuju” dengan skor 1 sampai    “Sangat Setuju” dengan skor 4, maka untuk ketiga butir jumlah skor yang diperoleh  berkisar antara 3 sampai 12.
Keterangan
Sangat Baik    : apabila memperoleh skor : 3,50 < skor ≤ 4,00
Baik                 : apabila memperoleh skor : 2,50 < skor ≤ 3,50
Cukup             : apabila memperoleh skor : 1,50 < skor ≤ 2,50
Kurang            : apabila memperoleh skor :1.00 < skor ≤ 1,50
2        Penilaian Sikap Sosial
a.        Teknik Penilaian        : Pengamatan
b.        Bentuk Instrumen      : Lembar Observasi
c.         Kisi-kisi                       :
Penilaian sikap sosial untuk diskusi
No.
Nilai
Deskripsi
No. Butir
1
Menghargai orang lain
Menghargai  pendapat orang lain
1
2
Jujur
Mengekspresikan gagasan dengan jujur
2
3
Disiplin
Mengikuti kegiatan diskusi dengan disiplin
3
4
Kesantunan
Menyampaikan pendapat dengan bahasa Jawa yang santun
4
   

  LEMBAR PENGAMATAN SIKAP
No
Nama
Kete
kunan
Kedisi-
plinan
Keso-
panan
Kepa-
tuhan
Kepe-
dulian
Kerja
sama
Keju-
uran
Ket


v
V
V
V
v
-
V
6










3        Pengetahuan
a.      Teknik Penilaian                   : Penugasan
b.       Bentuk Instrumen                : Skala
c.        Kisi-kisi                                 :
No.
Aspek yang dinilai
 No. Butir
1
 Membaca  kalimat dan teks berhuruf Jawa dengan benar
1 - 100

      Instrumen Penilaian Pengetahuan (K3)
1.        Wacanen teks ing ngisor iki  !
?kif=kenCn.
?p]burmwijynliklelns[j]oni=alsDnDksekliynK[rog/w[nyaiku[fwisinT,lnFi[d[rkK[k[dni=ryi[nkeksihr[fnlesMn.ski=mBzunT|ru[tTk[roai=k=rm[nyaikup]bufsrtai=z[yof-, st]iyrmk[rog/w[nni=glKmu[kTnlelnmev=als\.r[fnLesMn[aor[kri,set-  tuauziri=z[kseduli/tuwmev=als\.teknTezhals\,swi[snun=D|zibutbutsi=g=gug[wprpnDitsi=me/tplnG[wruskKi=p]tp[n,st]iyrmsekliynHm_am_autwa_g/a_g/p_glihfi[d[rk[kst]iylesMnmev=arartezhalsK=z}sepP[kpnF|lu.
Kunci Jawaban  :
KIDANG KENCANA
Prabu Ramawijaya nalika lelana sajroning alas Dhandhaka sekaliyan karo garwane yaiku Dewi Sinta, lan didherekake dening rayine kekasih Raden Lesmana. Saking mbangunturute karo ingkang ramane yaiku Prabu Dasarata ing Ngayodya, satriya Rama karo garwane ninggal kamukten lelana menyang alas. Raden Lesmana ora keri, setya tuhu ngiringake sedulir tuwa menyang alas. Tekan tengah alas, sawise nundhungi buta-buta sing ganggu gawe para pandhita sing mertapa lan gawe rusaking pratapane, satriya Rama sekaliyan ameng-ameng utawa enggar-enggar penggalih didherekake satriya Lesmana menyang ara-ara tengah alas kang ngresepake pandulu
      Pedoman Penskoran:
Setiap huruf benar diberi skor 1, sedangkan jawaban salah diberi skor 0. Karena terdapat 100 huruf maka skor  berkisar 0 – 100.
4        Keterampilan
a.      Teknik Penilaian           : Tes praktik
b.      Bentuk Instrumen         : Penugasan
b.    Kisi-kisi              :
No.
Indikator
No. Butir
1
Menulis teks menggunakan huruf Jawa
1
                                                               
      Instrumen Penilaian Keterampilan (K4)
       Soal
1.      Wacan ing ngisor iki tulisen nganggo aksara Jawa!
Raden rama punika putra kakungipun prabu dasarata , raja ing ayodya kaliyan dewi kosalya. Ing satunggaling dinten raden rama mumbara sesarengan kaliyan ingkang garwa , dewi sinta , lan ingkang rayi raden laksmana. Nalika tetiganipun dumugi ing wana. Dewi sinta pirsa kumlebating kidang kencana, kidang kang warni emas. Kidang kala wau kekiter ing sacedhaking papan kalawau.

Kunci Jawaban :
?r[fnRmpunikput]kku=zipunP]budsrt,rjai=a[yof-kliy[nFwi[koslY.ai=stu=glLi=dinTenR[fnRmmumBrsesr_znKliynHi=k=g/w[dwisinT,lnHi=k=ryilkSmn.nliktetignipunFumugiai=wn. [fwisinTpi/skumLebtTi=kif=kenCn,kif=k=w/niaems\.kif=klwaukekite/ai=scefkKi=ppnKlwau.
      Rubrik Penilaian Produk
       (Menulis paragraf berhuruf Jawa)       
                        No.
Aspek yang dinilai

Kriteria

1

2

3

4

1
Penulisan huruf

 

 

 

 

2
Penerapan sandhangan

 

 

 

 

3
Penerapan pasangan

 

 

 

 

4
Ketuntasan

 

 

 

 

      Keterangan:
4 = Sangat Baik                                         2  = Cukup
3 = Baik                                                     1  = Kurang
Untuk setiap aspek yang dinilai, pilihan berkisar dari “kurang” dengan skor 1 sampai “sangat baik” dengan skor 4, maka jumlah skor yang diperoleh berkisar antara 4 sampai 16
                                                                                                           
                                                                                                                        Babakan, Desember 2014
Kepala MTs N Model Babakan




Drs. H. Wahidin
NIP. 19550105 198203 1004
Guru Mata Pelajaran
Bahasa Jawa



Isnen Widiyanti, S.Pd
NIP. 19790924 200901 2 006



꧋ꦱꦼꦗꦫꦃꦲꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧉

꧋ꦱꦼꦗꦫꦃꦲꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧈

SEJARAH AKSARA JAWA

 Aksara Jawa, atau dikenal dengan nama Hanacaraka atau Carakan, adalah aksara jenis abugida turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Makasar, bahasa Sunda, dan bahasa Sasak. Bentuk aksara Jawa yang sekarang dipakai (modern) sudah tetap sejak masa Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada abad ke-19. Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi atau dikenal dengan Aksara Jawa Kuno yang juga merupakan abugida yang digunakan sekitar abad ke-8 – abad ke-16. Aksara ini juga memiliki kedekatan dengan aksara Bali. Nama aksara ini dalam bahasa Jawa adalah Dentawiyanjana.
> Sejarah
Aksara Jawa-Hindu

Dalam periode ini aksara Jawa mengikuti sistem Sanskerta Panini, yaitu mengikuti urutan ka-ga-nga (ini adalah urutan yang sama yang digunakan di Unicode aksara Jawa).
 
Sedangkan menurut Prof. Zoetmulder, ejaan aksara Jawa adalah sebagai berikut:














Dalam susunan abjad Jawa di atas belum ada penggolongan serta pemisahan aksara Murda seperti yang dikenal sekarang dalam setiap susunan abjad Jawa, dalam susunan abjad Jawa pra Islam di atas masih ditemukan beberapa aksara yang keberadaanya wajib hadir untuk menuliskan kata – kata Jawa kuna, dan aksara – aksara tersebut pada susunan aksara Jawa – Islam sedikit mengalami perubahan terutama sekali setelah adanya peran pemerintah kolonial Belanda untuk meresmikan tata eja aksara Jawa kala itu. Perubahan tersebut menghasilkan pengelompokan aksara Murda seperti yang dikenal sampai saat ini.

Aksara Jawa - Islam

Periode ini adalah periode ketika aksara Jawa berkembang pada dekade awal perkembangan Islam di Jawa, dan campur tangan bangsa asing (pemerintah Kolonial Hindia Belanda) belum mendominasi ranah politik dan kekuasaan di Jawa. Masa ini berlangsung kurang lebih jaman Demak – akhir Pajang, dan tulisan dalam periode ini diwakili tata tulis aksara Jawa yang terdapat pada teks serat Suluk Wujil dan serat Ajisaka. Pada periode ini aksara Jawa diurutkan menggunakan urutan ha-na-ca-ra-ka yang disusun untuk mempermudah penghapalan dan pengingatannya dengan cara yang kreatif yaitu dengan menyusun dalam suatu fragmen pendek yang menarik yang dikaitkan dengan mitos Ajisaka. Fragmen tersebut terdiri dari 4 baris masing‐masing terdiri dari 5 aksara, menyerupai metrum atau puisi / Sekar Kawi :
  1. hana caraka (ana utusan)
  2. data (sabanjuré) sawala (= suwala –kêrêngan)
  3. pada jayanya (babag kekuwatané)
  4. maga (ma‐ang‐ga) batanga (bangké) = mangawak bangké = palastra !
Dalam periode ini, pengertian aksara Murda masih belum disamakan dengan huruf kapital seperti halnya dalam tulisan Latin, namun keberadaan aksara Murda yang dipisahkan dari susunan huruf Jawa dasar (nglegana) karena merupakan aksara lama yang keberadaannya tetap dipertahankan, dan penggunaan aksara ini masih sama seperti pada aksara Jawa – Hindu.
Kemudian periode ini juga ditandai dengan digunakannya aksara rekan untuk menyesuaikan penulisan kata-kata Arab yang sudah mulai dikenal masyarakat Jawa kala itu dengan semakin intensifnya dakwah Islam di tanah Jawa.

Aksara Jawa - Kolonial
Periode ini adalah periode ketika aksara Jawa berkembang pada zaman pemerintah Kolonial Hindia Belanda berkuasa atas tanah Jawa, yang diwakili tata tulis aksara Jawa keluaran ejaan Sriwedari yang terdapat pada teks-teks Jawa yang ditulis sebelum adanya tata eja aksara Jawa Kongres Bahasa Jawa II Malang (1996). 
Perbedaan yang paling kentara adalah pemakaian aksara Murda pada periode ini, yang walaupun sebagian masih sama perlakuannya untuk aksara murda seperti pada periode-periode sebelumnya, namun sebagian sudah berubah fungsi sebagai huruf kapital layaknya dalam aksara Latin. 
Penggunaan (pengejaan) aksara Jawa pertama kali dilokakaryakan pada tahun 1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan menggunakan aksara ini, sejalan dengan makin meningkatnya volume cetakan menggunakan aksara ini, meskipun pada saat yang sama penggunaan huruf arab pegon dan huruf Latin bagi teks-teks berbahasa Jawa juga meningkat frekuensinya. Pertemuan pertama ini menghasilkan Wewaton Sriwedari ("Ketetapan Sriwedari"), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena lokakarya itu berlangsung di Sriwedari, Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-tarung bagi bunyi /o/ (O Jawa). Alih-alih menuliskan "Ronggawarsita" (bentuk ini banyak dipakai pada naskah-naskah abad ke-19), dengan ejaan baru penulisan menjadi "Ranggawarsita", mengurangi penggunaan taling-tarung.
Aksara Jawa Modern
Periode ini adalah periode perkembangan aksara Jawa setelah zaman Kemerdekaan Indonesia hingga sekarang, antara lain diterbitkannya buku Karti Basa oleh Kementrian Pengadjaran, Pendidikan dan Keboedajaan pada tahun 1946 yang berisi Patokan Panoelise Temboeng Djawa nganggo Aksara Djawa sarta Angka (Pedoman Penulisan Kata Jawa dengan Aksara Jawa serta Angka), serta Patokan Panoelise Temboeng Djawa nganggo Aksara Latin (Pedoman Penulisan Kata Jawa dengan Huruf Latin), yang kemudian diterbitkan terpisah sebagai Tatanan Njerat Basa Djawi oleh Tjabang Bagian Bahasa Djawatan Kebudajaan Kementerian P.P. dan K. Jogjakarta pada tahun 1955, yang telah disesuaikan dengan Ejaan Suwandi. 
Kemudian, untuk menindaklanjuti keputusan Kongres Bahasa Jawa I di Semarang pada tanggal 15-20 Juli 1991, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi DIY pada tahun anggaran 1992/1993 memutuskan ditetapkan penyelenggaraan kegiatan penyusunan pedoman penulisan aksara Jawa. Masalah yang dibahas dalam pedoman tersebut antara lain penyesuaian penulisan bahasa Jawa dengan ahara Jawa dan aksara Latin, penulisan kata-kata serapan dari bahasa serumpun dan bahasa asing dengan aksara Jawa, penulisan bunyi f dan v, penulisan bunyi yang ucapannya bervariasi, dan penulisan singkatan kata. 
Pada Kongres Bahasa Jawa II 1996 dikeluarkanlah Surat Kesepakatan Bersama (SKB) tiga gubernur (perda Jawa Tengah, No. 430/76/1996, DI Yogyakarta: No. 214/119/5280/1996, dan Jawa Timur No. 430/5052/0311/1996) pada tahun 1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah di ketiga provinsi tersebut. 
Pada tanggal 17 dan 18 Mei 1996 para ahli bahasa Jawa dari Provinsi DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berkumpul di Yogyakarta dan menghasilkan buku Pedoman Penulisan Aksara Jawa yang diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Nusatama. Perbedaan yang paling kentara dalam pedoman yang baru ini adalah pemakaian aksara murda sudah dianggap seperti layaknya huruf kapital seperti pada penggunaan huruf kapital dalam aksara Latin, tanpa mengindahkan tradisi lama yaitu hadirnya aksara Murda sebagai pendamping penulisan kata Jawa Kuna – Pertengahan. 
Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres Basa Jawa III, 15-21 Juli 2001 di Yogyakarta. Perubahan yang dihasilkan kongres ini adalah beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar + imbuhan), dan KBJ IV yang membuka jalan bagi dimasukkannya aksara Jawa ke Unicode.

Bentuk Aksara
Tulisan jawa adalah sebuah abugida. Setiap huruf konsonannya memiliki vokal inheren /a/ atau /ɔ/ dalam posisi terbuka, yang diubah dengan penempatan tanda baca tertentu, seperti halnya huruf Arab. Namun berbeda dengan huruf Arab, tanda baca vokal wajib ditulis jika diperlukan. Perlu diperhatikan bahwa tulisan Arab aslinya bersifat abjad, yakni hanya memiliki konsonan saja. Tanda baca dalam tulisan Arab hanya dipakai untuk teks penting, dan pengguna aslinya dapat membaca tulisan arab tanpa tanda baca. 
Setiap huruf konsonan dalam aksara Jawa memiliki bentuk subskrip, disebut pasangan, untuk membentuk klaster konsonan. Beberapa huruf memiliki bentuk 'kapital', namun huruf ini hanya digunakan untuk nama orang atau tempat, tidak untuk awal sebuah kalimat. Terdapat sejumlah huruf yang diadaptasikan untuk kata serapan dan bunyi asing yang tidak terdapat dalam bahasa Jawa. Terdapat pula angka, sejumlah tanda baca yang berfungsi untuk mengawali paragraf, mengawali surat, mengawali puisi, menandakan tengah puisi, dan mengakhiri puisi, serta tanda koma, titik, kurung, kutip dan penanda angka. 
Huruf Jawa ditulis miring ke kanan dan tanpa spasi (scriptio continua), karena itu pembaca harus mengenal tulisan dan bahasa Jawa untuk mengidentifikasikan batas antar kata.
 
Bentuk Aksara Jawa
Untuk menulis bahasa Jawa modern, digunakan 20 konsonan dasar yang disebut sebagai aksara nglegena. Namun untuk menulis bahasa Jawa Kuno, digunakan 33 konsonan dasar. Huruf-huruf tambahan ini merepresentasikan suara yang tidak dipakai lagi dalam bahasa Jawa modern, yang kemudian digunakan sebagai huruf 'kapital' dalam ortografi kontemporer.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Huruf "ha" dapat merepresentasikan vokal kosong, yang digunakan dengan tanda baca untuk membentuk huruf vokal independen.
Pasangan
Tanda Baca Konsonan
Terdapat dua macam tanda baca konsonan, yaitu tanda baca pengakhir konsonan (sandhangan panyigeging wanda) dan tanda baca penyisip konsonan (sandhangan wyanjana).
Tanda Baca Pengakhir Konsonan






Catatan:
  • Pangkon digunakan untuk menghilangkan vokal inheren suatu vokal, namun hanya digunakan pada akhir kalimat. Apabila sebuah konsonan tanpa vokal muncul ditengah kalimat, digunakan bentuk pasangan (lihat bagian pasangan).
 Tanda Baca Penyisip Konsonan


 

 

 

Catatan:
  • Bentuk cakra yang ditunjukkan disini sebenarnya adalah bentuk ligatur yang telah menjadi standar.
  • Cakra dan pengkal dapat digabungkan dengan tanda baca suku.

Murda

Beberapa huruf Jawa memiliki bentuk murda yang hampir setara dengan huruf kapital pada huruf latin. Namun murda hanya digunakan untuk menuliskan nama gelar, nama diri, nama geografi, atau nama lembaga, tidak untuk awal kalimat. Apabila sebuah nama ingin dikapitalisasi, suku kata pertamanya ditulis dengan aksara murda. Apabila tidak tersedia aksara murda untuk suku pertama, maka suku kata kedua yang dikapitalisasi. Apabila tidak tersedia aksara murda untuk suku kata kedua, maka suku kata ketiga yang dikapitalisasi, dan seterusnya. Jika diperlukan dan hurufnya tersedia, seluruh nama tersebut dapat ditulis dengan murda.
Mahaprana
Rekan 
Kebanyakan bunyi yang tidak terdapat dalam bahasa Jawa asli ditulis dengan huruf yang bunyinya mendekati ditambah tanda cecak telu. Huruf semacam ini disebut rekan atau rekaan, dan dapat dibagi menjadi dua jenis; rekan untuk menulis bunyi dari bahasa Arab, dan rekan untuk huruf latin dan bahasa-bahasa Eropa seperti bahasa Belanda. Terdapat dua jenis rekan lainnya yang kurang dikenal, yakni rekan untuk bahasa Sunda dan bahasa Cina. Namun rekan untuk bahasa Cina sangat jarang ditemui, dan tidak diikut-sertakan dalam range Unicode.
Rekan untuk Latin 
Rekan untuk Arab
Rekan untuk Bahasa Sunda
Rekan untuk Bahasa Cina

Lainnya








Catatan :
  • Ra agung digunakan untuk menulis nama orang yang dihormati, layaknya huruf murda. Namun huruf ini berada dalam kategorinya sendiri, dan tidak dilabeli murda.
  • Pa cêrêk merepresentasikan silabel rê, dan menggantikan setiap kombinasi ra + pêpêt.
  • Nga lêlêt merepresentasikan silabel lê, dan menggantikan setiap kombinasi la + pêpêt.
 Aksara Dasar (aksara swara)


Catatan:
  • Vokal panjang aaii, dan uu tidak diromanisasi dengan tanda baca macron.
  • I kawi adalah varian kuno vokal i mandiri.
  • Ai dan au masing-masing merepresentasikan diftong /ai/ dan /au/. Namun keduanya tidak dipakai dalam teks berbahasa Jawa karena bahasa Jawa tidak mengenal diftong. Kedua huruf ini berguna untuk mengtranskripsikan bahasa-bahasa seperti bahasa Indonesia dan Melayu.
Tanda Baca Vokal











Angka






Tanda - Tanda Baca (pada)















Gaya Penulisan (Style, Gagrag) Aksara Jawa

Berdasarkan Bentuk aksara Penulisan aksara Jawa dibagi menjadi 2 yakni :
Ngetumbar 









Mbata Sarimbag









Berdasarkan Daerah Asal Pujangga/Manuskrip, dikenal gaya penulisan aksara Jawa :

Jogjakarta













Surakarta










Demikian semoga bisa menjadi referensi atau membantu sobat yang lagi mencari materi tentang aksara Jawa dan Sejarah Aksara Jawa.  Salam......