Minggu, 20 April 2014

KARTINI DAN MUSLIMAH SEJATI


































Ibu kita kartini
Putri sejati, putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita kartini pembela bangsa
Pembela kaumnya untuk merdeka

Masih ingat lagu kesayangan kita di waktu kecil? Lagu yang membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa kebanggaan terhadap kontribusi dari kaum perempuan.
Perjuangan seorang Kartini bagaikan mata air di padang pasir, saat kaum perempuan dianggap lemah dan tak berdaya, beliau justru mematahkan semua paradigma terhadap perempuan, membuat dogma baru bahwa perempuan punya hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala hal, yang membedakannya hanya dalam tataran konsep dasar dan hakikat bahwa perempuan berbeda dengan laki-laki. Sehingga kumpulan tulisannya pun dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Bahagiakah Kartini? Entahlah. Tidak ada yang tahu. Apakah ia puas dengan semua pengorbanannya untuk bangsa ini, karena sekarang kaum perempuan justeru lebih tidak dihargai bahkan oleh perempuan itu sendiri dan berkembang pemikiran yang menyetarakan laki-laki dan perempuan.
Kebanyakan kaum perempuan menilai sama antara feminisme dengan apa yang diperjuangkan oleh seorang Kartini. Begitu banyak perbedaan pendapat tentang hal ini, yang jelas konsep seorang perempuan lembut namun cerdas yang dibawa oleh puteri bupati Jepara ini sekarang sudah mulai tereduksi atas nama Hak Asasi Manusia (HAM). Lagi-lagi HAM.
Benarkah seorang Kartini berjuang untuk kebebasan yang seluas-luasnya bagi kaum perempuan? Saya yakin tidak.
Karena bagi Kartini tidak ada pendiskriminasian terhadap perempuan, bukan berarti perempuan meninggalkan peran dan fungsi sebagi seorang perempuan itu sesuai kodratnya, sebagai seorang istri, dan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.
Yang jelas sebelum Kartini lahir sudah ada seorang manusia sempurna yang jauh lebih berperan dalam perjuangan untuk mengangkat derajat kaum perempuan, ia bukan seorang perempuan, namun perjuangannya membuktikan betapa Islam menghargai dan memuliakan seorang perempuan. Konsep ini terlihat dari hadis.
Penyebutan ibu tiga kali dan ayah satu kali bukannya tanpa arti, namun tersirat makna bahwa yang lebih diutamakan untuk dihargai adalah ibu, bukan berarti pula tidak menghormati ayah.
Hanya saja, seorang perempuan harus melalui masa-masa berat untuk mendapat sebutan ibu, mulai dari mengandung, melahirkan hingga menyusui dan membesarkan anak. Tak heran jika dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 14 dikatakan:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”
Perempuan dan laki-laki memang insan yang berbeda, namun dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa perbedaan itu hanya dalam masalah peran dan fungsi saja, bahwa seorang perempuan mempunyai fungsi sebagai : mar’atushsholihah, zaujatu muthi’ah, dan ummul madrasah berbeda dengan laki-laki.
Namun dalam masalah pendidikan, pekerjaan dan masalah teknis lainnya perempuan dan laki-laki sama asalkan perempuan tidak meninggalkan peran dan fungsinya tadi. Antara perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan derajat tertinggi di mata Allah yaitu taqwa.
Jika Kartini menginginkan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, maka Islam jauh mempunyai impian yang lebih mulia terhadap perempuan, kembalikanlah segala sesuatu kepada Al-Qur’an dan hadis.
Bahwa apapun paham-paham yang berkembang sekarang namun tetaplah menjadi jati diri seorang muslimah, seperti Siti Khadijah yang walaupun seorang saudagar, namun mampu menjalankan perannya sebagi istri dan menjadikannya seorang wanita salehah .. karena setiap muslimah adalah mutiara.
Wallahu’alam bishshowab…
Penulis:
Ryan Muthiara Wasti
Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Kamis, 10 April 2014

Pro Kontra Menjadi Wanita Karir

Pro Kontra Menjadi Wanita Karir


image
Merupakan hal lumrah, ketika Anda memilih untuk bekerja menjadi seorang wanita karir. Namun terkadang, respon yang diberikan oleh lingkungan sekitar Anda tak semulus yang dibayangkan. Sebagai individu yang hidup bermasyarakat, seringkali keinginan pribadi kita terbentur dengan adanya norma dan peraturan. Baik dari agama, maupun sosial.
Demikian pula dengan pilihan Anda untuk menjadi seorang wanita karir. Sebelum Anda mantap untuk menjalani profesi tersebut, tentunya dipenuhi pula dengan pertimbangan-pertimbangan terkait, baik internal maupun eksternal. Atau istilah familiarnya yakni, sisi positif dan negatifnya.
Sisi positif wanita karir
Ekonomi Keluarga
Bagi keluarga moderen, dalam hal menopang perekonomian keluarga, kedudukan pria dan wanita ialah sebagai mitra yang sejajar. Dimana wanita dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga yang makin bervariasi, tidak hanya bergantung pada penghasilan suaminya saja.
Mengisi Waktu Luang
Pekerjaan rumah tangga yang seabrek, sudah tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi para wanita. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, dapat menjadi solusinya. Misalnya saja dengan menggunakan mesin cuci. Atau, dengan menyewa jasa asisten rumah tangga (pramuwisma). Solusi-solusi tersebutlah yang kemudian menjadikan wanita memiliki waktu luang yang berlebih. Sehingga alangkah lebih baik jika diisi dengan kegiatan yamg bermanfaat dan menghasilkan, menjadi wanita karir.
Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)
Seiring majunya perkembangan teknologi, maka dibutuhkan pula sumber daya manusia dengan kompetensi yang mumpuni untuk menjalankannya. Kebutuhan sumber daya manusia tersebut, cukup terbantu dengan para wanita yang memiliki pendidikan sama tingginya dengan pria pada umumnya.
Percaya Diri
Menjadi wanita karir, tentunya harus siap untuk dibutuhkan dan berhadapan dengan orang banyak. Oleh karena itu, wanita karir harus selalu tampil prima setiap saat. Keharusan tersebutlah yang akhirnya mendorong rasa percaya diri yang positif dalam diri wanita.
Sisi negatif wanita karir
Terhadap suami
Suami dari seorang wanita karir tentunya bangga, melihat istrinya yang kreatif, pintar, dan berguna bagi banyak orang termasuk keluarga. Namun, seringkali masalah yang terjadi adalah rasa minder sang suami akibat penghasilan istri yang lebih tinggi.
Selain itu, wanita karir biasanya mengorbankan banyak waktunya di rumah hanya demi tuntutan pekerjaan. Sehingga, suami yang lelah menjadi kesal akibat tidak menemui istrinya sepulang dari bekerja. Belum lagi masalah penundaan kehamilan yang sering terjadi pada pasutri yang masih muda.
Terhadap Anak
Wanita karir biasanya memiliki jam kerja yang tidak menentu. Bahkan terkadang lembur sampai larut malam. Pekerjaan yang menyita waktu ini, menyebabkan kelelahan setibanya di rumah. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat kesabaran Anda sebagai ibu, dalam menghadapi anak-anak Anda.
Perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu, memiliki peran penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Sehingga, dengan kurangnya hal-hal tersebut akan berakibat negatif bagi perkembangan dan pergaulan anak Anda.
Terhadap Rumah Tangga
Berdasarkan fakta yang bergulir, biasanya wanita yang sudah memutuskan untuk menjadi wanita karir, lebih mementingkan pekerjaannya daripada urusan rumah tangganya. Kerap kali, wanita karir lalai akan kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang ibu.
Hal inilah yang kemudian menimbulkan berbagai prahara dalam rumah tangga, seperti ribut-ribut kecil sampai pertengkaran yang hebat. Yang perlu diingat, hal tersebut akan berdampak negatif bagi psikologis anak-anak Anda.
Terhadap Masyarakat
Saat ini, sudah banyak sekali sektor industri dan perusahaan yang mempekerjakan wanita. bahkan lebih banyak wanitanya, dibanding pria. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial antara kedua gender tersebut. Belum lagi alasan dipilihnya pekerja wanita ialah karena wanita tidak banyak menuntut dan lebih efisien dalam pekerjaannya.
Selain itu, kebanyakan wanita karir suka memilah-milah dalam urusan pasangan. Alasannya, ingin mencari yang terbaik dan sepadan untuk bersanding dengannya. Sayangnya, hal tersebut malah membuat wanita karir terlalu lama untuk memutuskan, sehingga masih melajang di usia pantas menikah

Senin, 31 Maret 2014

Prestasi Pramuka MTs N Model Babakan Tak Diragukan Lagi !

Prestasi Pramuka MTs N Model Babakan memang tak diragukan lagi. Hal ini terbukti dengan 4 tropy kejuaraan yang telah diraihnya dalam berbagai even lomba GSAM VI pada tanggal 30 Maret 2014 yang di ikuti oleh penggalang dari berbagai kota/Kabupaten seperti Kab Tegal, Kota Tegal, Kab. Brebes. Prestasi ini tentu tak lepas dari perjuangan dan kegigihan semua unsur yang terlibat didalamnya, baik unsur Mabigus, Pembina, maupun Pelatih dan juga semangat anggota.


Kegembiraan siswa MTs N Model Babakan

Pramuka MTs N Model Babakan memang beda, dan mempunyai karakteristik tersendiri, jika dibandingkan dengan pramuka penggalang lainnya. Yang sangat menonjol adalah Semangat Nasionalisme karakter bangsanya. Bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia dan cita-cita penjaga NKRI serta tetap memegang teguh ajaran agama Islam dengan berhijab (Harga Mati) merupakan satu hal yang patut di acungi jempol, karena bukan hanya semangat berlomba tapi juga semangat berjihad demi agama Islam.
Pasukan Pramuka MTs N Model Babakan dalam Ajang GSAM VI

Kita meraih 4 tropy di ajang GSAM yang di ikuti oleh penggalang dari berbagai kota/Kabupaten seperti Kab Tegal, Kota Tegal, Kab. Brebes.
Empat Tropy tersebut diperolah dari lomba Ganas Mascot Scout sebagai juara I Putra, Ganas Scouth 
Rally untuk mata lomba Perpetaan Putri sebagai Juara II dan Putra Juara III , dan kita menjadi Juara Tergiat Putra III dan memperoleh uang pembinaan sebesar Rp. 300.000. Kita berharap Penataan Sistem yang telah dibentuk di gudep MTs N Model Babakan berkesinambungan supaya tetap lestari demi kejayaan MTs N Model Babakan.


Rabu, 05 Februari 2014

Pamacane Aksara Swara / Huruf Vokal

Tabel Abjad Latin Jawa
Untuk Keperluan
Menulis dan Membaca Bahasa Jawa dan Aksara Jawa
a
a jêjêg
arang, branang, carang, dagang, egrang. gajah, haram, jamas, kramas, larang, marang, nantang, palang, rajah, sarang, tambak, warang, yasan.
a miríng
ånå, bårå, cårå, dåsånåmå, gånå, håmå, jåkå, kålå, låra, måtå, nåtå, pårå, råså, tåtå, wåndå.
i
i jêjêg
aki aki, bibi, diri, giri, kisi, lindhu, kemiri, mili, nini, pipi, risi, tiris, wiji.
i miríng
apík, batík, carík, dingklík, gundhík, jangkrík, kirík, lampít, manjíng, nitís, pitík, resík, tasík, wisík.
u
u jêjêg
ayu, bayu, curiga, dudu, guru, juru, kuli, murid, numpak, puteri, rusak, tulis, wuwu, yuyu.
u miríng
amúk, batúk, catút, dadúng, gabúng, juntrúng, kalúng, murúng, nundúng, purún, rawúh, sampún, têmbús, wurúng.
e
ê jêjêg
arêm arêm, bayêm, cêkêl, dêlêng, gêlêm, jênêng, kêrêng, mênêng, pêtêng, rêgêng, sênêng, têmên, wêtêng.
è miring
bèdhèng, cèlèng, dèndèng, gèmbèl, jèrèng, kèpèng, lèmpèng, mènèk, pèrèng, rèmbès, sèng, tèdhèng.
é miring
bêndhé, cêmpé, dhédhé, géndhóng, kéré, lélé, mépé, némplók, pépé, séjé, téko, wéwé.
o
o jêjêg
ora, bodo, coro, dosa, gombal, kotak, loro, moto, nolak, rodha, soto, toko.
ó miring
amóng, bólóng, córóng, dódól, góróh, kóthóng, lódhóng, mómóng, nónóng, póróng, róbyóng, tóbóng, wóng.
Abjad Latin Untuk Bahasa Jawa
Abjad Latin untuk keperluan menulis dan membaca Bahasa Jawa, dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai pedoman bagi para Sutresna, khususnya yang bukan pemakai/penutur bahasa Jawa agar dapat membaca artikel/andharan secara benar.
1. Aksårå ‘a’ diwaca ‘a’
arang, branang, carang, dagang, egrang. gajah, haram, jamas, kramas, larang, marang, nantang, palang, rajah, sarang, tambak, warang, yasan.
Pamrayogi Ki Demang : mbóten wónten perubahan (sami)
arang, branang, carang, dagang, egrang. gajah, haram, jamas, kramas, larang, marang, nantang, palang, rajah, sarang, tambak, warang, yasan.
(Réfêrènsi : Javaanche Taal 1896.)
2. Aksårå ‘a” diwaca ‘å’ Jåwå
ana, bara, cara, dasanama, gana, hama, jaka, kala, lara, mata, nata, para, rasa, tata, wanda.
Pamrayogi Ki Demang : ‘a’ dados ‘å’ Jåwå
ånå, bårå, cårå, dåsånåmå, gånå, håmå, jåkå, kålå, låra, måtå, nåtå, pårå, råså, tåtå, wåndå.
(Réfêrènsi : Javaanche Taal 1896.)
3. Aksårå ‘i’ diwåcå i,
aki aki, bibi, diri, giri, kisi, lindhu, kemiri, mili, nini, pipi, risi, tiris, wiji.
Pamrayogi Ki Demang : (sami)
aki aki, bibi, diri, giri, kisi, lindhu, kemiri, mili, nini, pipi, risi, tiris, wiji.
Réfêrènsi : Ejaan Jawa Baku Wikipidea)
4. Aksårå ‘i’ diwåcå é Jåwå,
apik, batik, carik, dingklik, gundhik, jangkrik, kirik, lampit, manjing, nitis, pitik, resik, tasik, wisik.
Pamrayogi Ki Demang : ‘i’ diwaca é, pratåndhanipún: ‘í’ katambahan layar manêngên.
apík, batík, carík, dingklík, gundhík, jangkrík, kirík, lampít, manjíng, nitís, pitík, resík, tasík, wisík.
(Réfêrènsi : Ejaan Jawa Baku Wikipidea)
5. Aksårå ‘u’ diwåcå u,
ayu, bayu, curiga, dudu, guru, juru, kuli, murid, numpak, puteri, rusak, tulis, wuwu, yuyu.
Pamrayogi Ki Demang : (sami)
ayu, bayu, curiga, dudu, guru, juru, kuli, murid, numpak, puteri, rusak, tulis, wuwu, yuyu.
(Réfêrènsi : Ejaan Jawa Baku Wikipidea)
6. Aksårå ‘u’ diwåcå o Jåwå
amuk, batuk, catut, dadung, gabung, juntrung, kalung, murung, nundung, purun, rawuh, sampun, tembus, wurung.
Pamrayogi Ke Demang : ‘u’ diwaca ó, pratåndhanipún: ‘ú’ katambahan layar manêngên.
amúk, batúk, catút, dadúng, gabúng, juntrúng, kalúng, murúng, nundúng, purún, rawúh, sampún, têmbús, wurúng.
(Réfêrènsi : Ejaan Jawa Baku Wikipidea)
7. Aksårå ‘e’ diwaca e pepet,
arem arem, bayem, cekel, deleng, gelem, jeneng, kereng, meneng, peteng, regeng, seneng, temen, weteng.
Pamrayogi Ki Demang : ‘e’ pêpêt, pratåndhanipún, ‘caping’
arêm arêm, bayêm, cêkêl, dêlêng, gêlêm, jênêng, kêrêng, mênêng, pêtêng, rêgêng, sênêng, têmên, wêtêng.
(Réfêrènsi : Wêwatón Sriwêdari - 1926.)
8. Aksårå ‘e’ diwaca é taling
bendhe, cempe, dhedhe, gendhong, kere, lele, mepe, nemplok, pepe, seje, teko, wewe.
Pamrayogi Ki Demang : ‘é’ taling, pratåndhanipún: layar manêngên
bêndhé, cêmpé, dhédhé, géndhóng, kéré, lélé, mépé, némplók, pépé, séjé, téko, wéwé.
(Réfêrènsi : Éjaan Jawa Baku Wikpidea)
9. Aksårå ‘e’ diwaca è taling
bedheng, celeng, dendeng, gembel, jereng, kepeng, lempeng, menek, pereng, rembes, seng, tedheng.
Pamrayogi Ki Demang : ‘è’ taling, pratåndhanipún: layar mangiwa
bèdhèng, cèlèng, dèndèng, gèmbèl, jèrèng, kèpèng, lèmpèng, mènèk, pèrèng, rèmbès, sèng, tèdhèng.
(Réfêrènsi : Éjaan Jawa Baku Wikpidea)
10. Aksårå ‘o’ diwaca ‘o’
ora, bodo, coro, dosa, gombal, kotak, loro, moto, nolak, rodha, soto, toko.
Pamrayogi Ki Demang : (sami)
ora, bodo, coro, dosa, gombal, kotak, loro, moto, nolak, rodha, soto, toko.
(Réfêrènsi : Éjaan Jawa Baku Wikpidea)
11. Aksårå ‘o’ diwåcå ó-jawa
among, bolong, corong, dodol, goroh, kothong, lodhong, momong, nonong, porong, robyong, tobong, wong.
Pamrayogi Ki Demang : ‘ó’ o jåwå, pratåndhanipún, katambahan layar manêngên
amóng, bólóng, córóng, dódól, góróh, kóthóng, lódhóng, mómóng, nónóng, póróng, róbyóng, tóbóng, wóng.
(Réfêrènsi : Javaanche Taal 1896.)

Minggu, 19 Januari 2014

Materi Pranatacara

PRANATACARA
Pranata adicara asring sinebat master of ceremony (MC), pambiwara, pranata adicara, pranata titilaksana, utawi pranata laksitaning adicara. Regeng, rancak, nges lan botenipun satunggaling adicara saperangan ageng dados tanggel jawabipun pranatacara . Pranata adicara menika salah satunggaling paraga ingkang nggadhahi jejibahan nglantaraken titilaksana ing satunggaling upacara adat temanten, kesripahan, resmi/formal, pepanggihan, pasamuan, pengaosan, utawi pentas lan sapanunggalanipun.
Sarat ingkang baku dados pranatacara utawi pamedharsabda wonten 3:
1. Olah swara
Olah swara utawi swanten ingkang sae dipunwastani gandhang. Gandhang tegesipun sera boten mbrebeki, lirih tansah angenaki.
2. Olah raga lan olah busana
Pangolahing raga magepokan kaliyan sikep, solah bawa, kasusilan lan subasita. Sinengkuyung busana ingkang pantes
3. Olah basa lan sastra
Supados saged ngolah basa lan sastra pranatacara/pamendharsabda kedah mangertos paramasastra. Kanthi pangertosan paramasastra pranatacara/pamedarsabda saged ndhapuk mocap, tembung, ukara, wacana kanthi laras lan leres. Laras tegesipun pranatacara saged ngrantam saha mbabar titi laksana trep kaliyan kawontenan saha swasana. Leres tegesipun prantacara saged ngginakaken basa ingkang trep kaliyan paramasastra.
SESORAH
Sesorah ing Basa Indonesia pidato tembung liyane sesorah medhar sabda. Medhar tegese ngandharake, sabda tegese omongan. Dadi sesorah yaiku medharake gagasan kanthi lisan ing sangarepe wong akeh.
Bab sing kudu digatekake wong sesorah :
A. BASA
Basa sing digunakake kudu laras karo patrap, kahanan lan sapa sing diadhepi. Basa krama digunakake menawa ngadhepi para sesepuh, resmi utawa khusus. Basa ngoko digunakake menawa ngadhepi bocah-bocah. Basa sing digunakake kudu runtut, patrap pamilihing tetembungan lan gampang ditampa. Uga bisa nggunakake basa kang endah manut susastra.
Urut-urutanipun sesorah :
1. Salam Pambuka
Isine ngucapake salam marang para tamu minangka tanda sapa aruh lan pakurmatan.
2. Pamuji
Isine mamuji syukur dhumateng Gusti ingkang Maha Asih supaya acara saged kalaksanan kanthi lancar.
3. Isi/wigatining atur
Isine ngaturake wosing gati acara/sesorah, upamane pambagya harja, sukuran lan sapanunggalane.
4. Pangarep-arep
Isine nyuwun donga pengestu dhumateng para rawuh, supaya apa kang digayuh saged kalaksanan. Upamane : dadi temanten saged rukun lan tentrem kulawargane nganti kaki nini.
5. Panutup
Isine nyuwun pangapunten menawa wonten kalepatan kekirangan anggone nampa para rawuh. Lan ngaturake panuwun marang para rawuh ingkang sampun kersa nglonggarake wektu rawuh ing acara kasebut. Dipungkasi kanthi nuwun utawi salam.
B. ISI
Isinipun kedah mentes, patrap karo kahanan wektu iku. Isi sing diandharake boten kadaluwarsa, narik kawigaten sing ngrungokke. Ing isine sesorah saged ugi nggunakake geguritan utawa tembang kangge selingan supaya sesorah bisa luwih apik.
C. Solah Bawa
Solah bawa ingkang patrap lumrahe astane ngapurancang. Menawa sesorahe nggunakake mimbar, astane tetep wonten sadhuwuring mimbar. Kejaba iku solah bawa kudu dipatrapke karo busana. Busana aja katon nyleneh, aja nganti warnane nyenther (nyolok mripat), lan busana saged dipatrapake kaliyan swasana.
Wonten malih ingkang kedah digatekake nalika sesorah : 4 W :
1. Wicara
Wicara nalika sesorah kedah cetha, tegese ora bindheng. Upamane kudu cetha bedane a, o, t, th, e, e, d, dh.
2. Wiraga
Wiraga sesorah kedahipun patrap kaliyan swasana badan kudu teteg, jejeg, mantep, astane ngapurancang. Praen ulat sumeh, grapyak, ora besengut.
3. Wirama
Nalika sesorah wiramane ingkang patrap, boten keseron, boten bengok-bengok, lan aja kelirihen.
4. Wirasa
Nalika sesorah wirasa dipatrapake karo swasana, upamane layatan boten sami kaliyan syukuran. Aja nganthi gojegan.
TULADHA PRANATA ADICARA
ING LINGKUNGAN MASYARAKAT
ADICARA PENGETAN MAULUD NABI
Assalamu’alaikum Wr.WB.
Bapak Lurah Desa … ingkang satuhu kinabekten.
Wonten ngarsanipun Ustadz … ingkang dahat kinormatan.
Warga masyarakat Desa … ingkang kula tresnani.
Langkung rumiyin sumangga kita ngaturaken puji syukur wonten ngarsanipun Allah SWT, ingkang sampun paring karaharjan saha kamulyan dhumateng kita sedaya saengga wonten ing wekdal menika kita saged makempal wonten ing Bale Desa ….. menika saperlu ngawontenaken Pengetan Maulud Nabi ing taun menika, kanthi nir rubeda kalis ing sambekala.
Namung saderengipun adicara kawiwitan, langkung rumiyin kula minangka pranata adicara badhe ngaturaken menggah urut-urutanipun adicara pengetan Maulud Nabi ing wekdal menika.
Adicara ingkang sapisan pambuka
Adicara ingkang kaping kalih atur palapuran saking Ketua Panitia
Adicara ingkang kaping tiga atur pangandikan saking Bapak Lurah
Adicara ingkang kaping sekawan Pengaosan ingkang samangkeh badhe kawedharaken dening panjenenganipun Ustadz ….. saking ….
Adicara ingkang pungkasan inggih menika panutup.
Makaten menggah tata rakiting adicara Pengetan Maulud Nabi ing wekdal menika.
Kaum …. ingkang kinormatan, sumangga adicara ing wekdal menika enggal kawiwitan.
Adicara ingkang kapisan inggih menika pambuka. Sumangga adicara Pengetan Maulud Nabi ing wekdal menika kita bikak kanthi waosan Basmallah sesarengan. ….. Mugi-mugi kanthi waosan Basmallah kalawau Gusti Allah paring rohmat dhumateng kita sedaya saengga wiwit purwa madya lan wusananipun saged lumampah kanthi sae boten wonten alangan satunggal menapa.
Acara salajengipun atur palapuran saking ketua Panitia. Wonten ngarsanipun Bp. …. kula sumanggakaken.
………………….. Makaten atur palapuran saking ketua panitia.
Kita ngancik adicara ingkang kaping tiga inggih menika atur pangandikan saking Bapak Kepala Desa. Wonten ngarsanipun Bapak ……… kula sumanggakaken .
………………………………………………………………………………..
Adicara salajengipun waosan Ayat Suci Al Qur’an. Dhumateng sedherek/adhik/Bpk ………….. kasumanggakaken
Para ….. ingkang kinormatan salajengipun kita ngancik adicara ingkang kaping gangsal inggih menika Pengaosan ingkang badhe kaandharaken dening panjenenganipun Ustadz ……… kasuwun wonten ing pungkasaning pengaosan ing samangke Ustadz …. dipuntutup kanthi donga keslametan. Wonten ngarsanipun Ustadz …… kasumanggakaken.
Makaten pengaosan ingkang dipunandharaken dening panjenenganipun Ustadz …. Mugi-mugi pikantuk ganjaran saking Gusti Allah. Amin
Para ……
Kita ngancik acara ingkang pungkasan inggih menika panutup. Namung saderengipun adicara ing wekdal menika katutup, kula ingkang kajibah nglumantaraken tata rakiting adicara ing wekdal menika mbok menawi wonten atur saha patrap ingkang boten nuju prana kula nyuwun agunging samudra pangaksama.
Sumangga adicara Pengetan Maulud Nabi ing wekdal menika kita tutup kanthi waosan Hamdallah seserangan. Alhamdulillah …
Wassalamu’alaikum Wr.WB.
TULADHA PRANATA ADICARA
ING LINGKUNGAN SEKOLAH
ADICARA PENGETAN MAULUD NABI
Assalamu’alaikum Wr.WB.
Bapak Kepala Sekolah … ingkang satuhu kinabekten.
Wonten ngarsanipun Ustadz … ingkang dahat kinormatan.
Ibu Bapak Guru saha Karyawan TU ingkang kula ormati.
Para siswa Kelas VII, VIII, IX ingkang kula tresnani.
Langkung rumiyin sumangga kita ngaturaken puji syukur wonten ngarsanipun Allah SWT, ingkang sampun paring karaharjan saha kamulyan dhumateng kita sedaya saengga wonten ing wekdal menika kita sedaya saged makempal wonten ing papan menika saperlu ngawontenaken Pengetan Maulud Nabi, kanthi nir rubeda kalis ing sambekala.
Namung saderengipun adicara kawiwitan, langkung rumiyin kula ingkang kajibah nglumantaraken tata rakiting adicara ing wekdal menika, saderengipun adicara kawiwitan langkung rumiyin kula ngaturaken menggah urut-urutanipun adicara pengetan Maulud Nabi ing wekdal menika.
Adicara ingkang sapisan pambuka
Adicara ingkang kaping kalih atur palapuran saking Ketua Panitia
Adicara ingkang kaping tiga atur pangandikan saking Bapak Kepala Sekolah
Adicara ingkang kaping sekawan Pengaosan ingkang samangkeh badhe kawedharaken dening panjenenganipun Ustadz ….. saking ….
Adicara ingkang pungkasan inggih menika panutup.
Makaten menggah tata rakiting adicara Pengetan Maulud Nabi ing wekdal menika.
Para … ingkang kinormatan, sumangga adicara ing wekdal menika enggal kawiwitan.
Adicara ingkang kapisan inggih menika pambuka. Sumangga adicara Pengetan Maulud Nabi ing wekdal menika kita bikak kanthi waosan Basmallah sesarengan. ….. Mugi-mugi kanthi waosan Basmallah kala wau Gusti Allah paring rohmat dhumateng kita sedaya saengga wiwit purwa madya lan wusananipun saged lumampah kanthi sae boten wonten alangan satunggal menapa.
Acara salajengipun atur palapuran saking ketua Panitia. Wonten ngarsanipun Bp. …. kula sumanggakaken.
………………….. Makaten atur palapuran saking ketua panitia.
Kita ngancik adicara ingkang kaping tiga inggih menika atur pangandikan saking Bapak Kepala Sekolah. Wonten ngarsanipun Bapak ……… kula sumanggakaken .
………………………………………………………………………………..
Adicara salajengipun waosan Ayat Suci Al Qur’an. Dhumateng sedherek ………….. Kasumanggakaken
Para ….. ingkang kinormatan salajengipun kita ngancik adicara ingkang kaping gangsal inggih menika Pengaosan ingkang badhe kaandharaken dening panjenenganipun Ustadz KH ……… kasuwun wonten ing pungkasaning pengaosan ing samangke Ustadz …. dipuntutup kanthi donga keslametan. Wonten ngarsanipun Ustadz KH …… kasumanggakaken.
Makaten pengaosan ingkang dipunandharaken dening panjenenganipun Ustadz …. Mugi-mugi pikantuk ganjaran saking Gusti Allah. Amin
Para ……
Kita ngancik acara ingkang pungkasan inggih menika panutup. Namung saderengipun adicara ing wekdal menika katutup, kula ingkang kajibah nglumantaraken tata rakiting adicara ing wekdal menika mbok menawi wonten atur saha patrap ingkang boten nuju prana kula nyuwun agunging samudra pangaksama.
Sumangga adicara Pengetan Maulud Nabi ing wekdal menika kita tutup kanthi waosan Hamdallah seserangan. Alhamdulillah …
Wassalamu’alaikum Wr.WB.
Teks Wicara Pranatacara Rapat OSIS
Nuwun,
Kanthi kinurmatan Ketua OSIS sarta kabeh para kanca pengurus OSIS sing sutresna.
Minangka pranatacara aku njaluk lilah ngandharake acara rapat ing rapat OSIS iki. Nanging sadurunge ayo padha ngaturake puji syukur mring Gusti kang Maha Welas lan Asih kang wis paring kanugrahan marang kita kabeh.
Mungguh acara sing bakal dirembug karantam kaya mangkene :
Sepisan, pambuka
Kaping pindho, tanggap wacana ketua OSIS
Dene acara kang kaping telu, ndhapuk panitya inti study tour,
Kaping papat, usul-usul saka para kanca.
Sing pungkasan, panutup.
Mangkono mau para kanca, rantamaning acara rapat ing dina iki.
Mangga enggal diwiwiti supaya enggal bisa rampung.
Ngancik acara sepisan, pambuka mangga diwiwiti kanthi kanthi ndedonga manut agamane dhewe-dhewe supaya rapat bisa lancar lan kasil karo ancas tujuanane. Ndedong kawiwitan.
————————-ndonga —————————-
Matur nuwun, ……………… (cukup)
Acara kapindho, tanggap wacana dening ketua OSIS. Katur Mbak Aji Sukmawati,
sumangga.
————————tanggap wacana ——————–
Mangkono mau tanggap wacana saka ketua OSIS , muga-muga kita bisa nindakake. Amin.
Sabanjure kita bakal ndhapuk panitya inti study tour . Kanggo ndhapok panitya inti,Wektu sacukupe dakaturake Mas Bayu Putra minangka wakil ketua OSIS. Sumangga.
————————ndhapuk panitya inti ———————–
Para pengurus OSIS sing sutresna. Panitiya inti wis kadhapuk kanthi rancag. Aku ndherek mangayubagya, muga-muga bisa nindakake tugase kanthi becik, satemah study tour bisa kaleksanan kanthi sukses.
Acara sabanjure usul, panemu, pamrayoga lan liya-liyane. Sinambi nampa usulan , para kanca kang wis nampa nyamikan lan unjukan mangga didhahar lan diunjuk kanthi mardika. Sumangga kanca-kanca sing padha usul, bakal dicathet dening sekretaris inti. Rembugan usul dipimpin dening ketua inti anyar sing lagi wae kadhapuk, sumangga.
———————–usul-usul ————————–
Kanthi muji syukur rapat bisa rampung lan ndhapuk panitya inti study tour. Sabanjure panitya inti duwe tugas matur marang Pak Andri Sulistya minangka pembimbing OSIS, kepriye mungguh kiprah sanjure. Tumrap panitya inti, aku minangka wakile para kanca lan siswa ngaturake sugeng makarya.
Para kanca kanthi pamuji syukur marang Gusti kanthgi ati seneng lan bombong acara rapat wis kaleksanan. Aku minangka pranatacara yen ana atur kang ora nyenengake utawa ora runtut ukara kang dakaturake aku nyuwun pangapura. Sadurunge katutup mangga panitya inti maju ngadeg jajar saperlu nampa jawat asta pinangka tanda pangayubagya saka para kanca. Sumangga acara ditutp kanthi pamuji syukur manut tatacara agamane dhewe-dhewe. Sumangga.
—————————donga panutup ———————-
Matur nuwun.
Cengkorangan (krangka) wicara pranatacara
1. Salam pamuka
2. Sapa aruh marang tamu sing rawuh
3. Ngajak muji syukur mring Gusti
4. Maca rantamaning acara
5. Nglantarake acara/adicara mbaka sawiji kanthi wijang
6. Mungkasi acara/adicara, kanthi njaluk pangapura yen ana lupute nalika ngayahi dadi pranatacara
7. Salam panutup
Tembung-tembung wigati ing teks wicara pranatacara:
pranatacara = wong kang nglumatarake sawijining adicara
rantaman = rancangan
sih sutresna = kang di tresnani
njaluk lilah = njaluk idin/ijin
kita = awake dhewe
tanggap wacana = sesorah/pidato
karantam = dirantam/dirancang
rancag = lancar
ndhapuk = gawe
kiprah = kridhane ing sajroning acara
bombong = mongkog/marem
ngadeg jajar = ngadeg jejer
jawat asta = salaman